Kominfo Sulawesi Tenggara bangun sinergi pemberitaan dengan organisasi media

Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Sulawesi Tenggara membangun sinergi dengan berbagai lembaga media dan wartawan untuk meningkatkan publikasi informasi dan pemberitaan di lingkup pemerintahan provinsi.

Konsolidasi yang dilaksanakan Kepala Dinas Kominfo Sultra M Ridwan Badallah didampingi Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik Andi Syahrir dan dihadiri Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sultra Sarjono, Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Sultra Djufri Rachim, Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Gugus Suryaman Sekretaris Umum AMSI Nuriadi Sekretaris Umum SMSI Suparman serta fungsionaris AMSi lainnya Makmur Abdullah.

Kepala Dinas Kominfo Sultra M. Ridwan Badallah mengatakan langkah itu ditempuh untuk meningkatkan sinergitas publikasi informasi dan pemberitaan sekaligus menyerap berbagai problematika dan dinamika kehidupan pers di Sultra.

“Sejumlah gagasan dan permasalahan dikemukakan dalam pertemuan itu. Antara lain, persoalan kompetensi wartawan dan profesionalisme perusahaan media. Organisasi media dan wartawan juga berkomitmen memajukan iklim pers yang sehat,” kata Ridwan di Kendari, Jumat.

Ia juga mengungkapkan bahwa pemerintah harus hadir untuk memberikan edukasi, rambu-rambu, dan penguatan untuk media dalam rangka menciptakan iklim pers yang bebas namun bertanggung jawab dan profesional.

“Saya hadir di sini untuk mengawal visi misi gubernur. Saya membantu beliau. Pemerintah tidak kuat jika tidak didukung oleh media. Media harus hadir di setiap lini pembangunan daerah tetapi harus profesional,” ujar Ridwan.

Pada kesempatan itu, Ketua PWI Sultra Sarjono mengemukakan lembaga pers tumbuh subur di Sultra di tengah menjamurnya lembaga pers yang didominasi media daring itu, tentu ada persoalan-persoalan yang menyertainya.

“Permasalahan ini sesungguhnya menjadi domain dari organisasi media, misalnya standarisasi perusahaan media. Kita melihat pagi masih jadi wartawan, sorenya sudah jadi direktur. Kita melihat ada persoalan kapasitas sumber daya di sini. Organisasi media sangat berperan untuk melakukan pembinaan,” papar Sarjono yang juga merupakan wartawan senior di LKBN Antara.

Dia mencontohkan persoalan hukum yang saat ini melilit Dinas Kominfo di Sumatera Utara, dimana belanja publikasi mereka diaudit dan ditemukan banyak terserap oleh lembaga-lembaga media yang tidak jelas. Hal ini, kata dia, bisa menjadi yurisprudensi di Sultra.

Sementara itu, Ketua SMSI Gugus Suryaman mengungkapkan saat ini jumlah media siber yang ada di Sultra lebih dari 100 media, termasuk di antaranya media yang belum berbadan hukum ataupun yang hanya muncul tempo-tempo.

Sebagai organisasi media, kata dia, SMSI punya misi bahwa lembaga media harus memenuhi standar perusahaan yang ditetapkan dewan pers, namun mendorong agar mereka bisa tetap hidup. Untuk itu, lanjutnya, lembaga pers yang bernaung di bawahnya diklasifikasi menjadi tiga, yakni anggota penuh, calon anggota, dan anggota yang baru mengajukan diri.

“Kita mendorong nantinya SMSI dapat menjadi lembaga penguji dan verifikator media di daerah,” ujar Gugus.

Sekretaris Umum AMSI Nuriadi menambahkan bahwa lembaga pers yang sudah terverifikasi di Dewan Pers seharusnya punya perlakuan berbeda dengan yang belum terverifikasi oleh dewan pers, dalam hal menjalin kerja sama publikasi dengan pemerintah.

“Mendapatkan verifikasi dari dewan pers itu tidak mudah. Ada standar-standar yang harus dipenuhi. Setelah terverifikasi, ada media yang tidak terverifikasi tiba-tiba mendapatkan akses kerja sama yang lebih besar,” ungkap Nuriadi.

Senada dengan itu, Sekretaris Umum SMSI Suparman menyampaikan dengan dikuatkannya asosiasi media ini, maka animo lembaga media untuk berasosiasi menjadi tinggi guna mendapatkan pembinaan menjadi media yang lebih profesional.

Sumber : Kendari (ANTARA), 4 September 2020

Tinggalkan Balasan