Progress Smelter PT. CNI di Wolo Masih Sesuai Target

Progress pembangunan smelter PT. Ceria Nugraha Indotama (CNI) di Kecamatan Wolo masih sesuai target perencanaan. Hal itu terungkap dalam kunjungan lapangan Komisi III DPRD Kabupaten Kolaka di Lokasi pembangunan smelter PT. CNI di Kecamatan Wolo (20/8). “Hasil kunjungan kami bersama teman-teman komisi III melihat langsung dilapangan kita simpulkan kemajuannya masih on target atau sesuai perencanaan, itu juga dijelaskan langsung oleh teknisi perusahan PT. PP yang menangani pembangunan smelter PT. CNI,” papar Hasbi Mustafa, Ketua Komisi III DPRD Kolaka.

Legislator Hanura itu juga menjelaskan bahwa kunjungan lapangannya itu adalah untuk memastikan apakah ada progress dari pembangunan smelter PT. CNI pasca dilakukannya pemancangan perdana atau groundbreaking fasilitas pemurnian (smelter) feronikel PT. CNI pada 15 Juni lalu. “Ini kita mau pastikan, apa benar ada kemajuan, sebab pasca pemancangan banyak ada saja masyarakat yang bertanya-tanya bahkan meragukannya, makanya menindaklanjuti aspirasi itu kita turun langsung, dan ternyata memang masih sesuai perencanaan, dan masih berlangsung kegiatan disana,” terangnya.

Untuk saat ini kata, Hasbi, di lokasi pembangunan smelter PT. CNI masih dilakukan pembersihan dan pekerjaan leveling di sekitar area rencana smleter. “Berdasarkan teknisi dari PP, mengatakan pekerjaan leveling yaitu meratakan dan membersikan lokasi akan selesai pada bulan oktober nanti, sambil menunggu logistik lainnya, jadi memang masih on target, dan sesuai rencana akan beroperasi pada tahun 2021,” ujarnya.

Hasbi juga mengatakan progres dari pembangunan smelter itu selalu di pantau dan dilakukan penilaian oleh beberapa intistusi. “Jadi mereka juga dipantau progressnya dari tim independen dan intistusi lainnya, dan mereka melakukan penilaian,  dan kita juga datang untuk memastikannya lagi untuk memberikan saran dan masukan sesuai dengan aspirasi masyarakat yang datang kepada kami,” jelasnya.

Selain itu kata Hasbi, pembangunan gardu induk PLN untuk power plant untuk mendukung kebutuhan listrik smelter PT. CNI sudah berjalan. “Sudah jalan pembangunan gardu induknya oleh PLN, kita lihat langsung di lapangan, dan saya kira PT. CNI memang tidak main-main dalam hal ini,” terangnya.

Untuk itu dia berharap,masyarakat Kabupaten Kolaka dapat meberikan doa dan dukungannya agar smelter tersebut dapat terwujud. “Tentunya perusahaan juga butuh dukungan dan doa masyarakat agar ini terwujud, untuk itu masi kita sama sama dukung, saya kira PT.CNI sangat serius membangun smelter, untuk apa investasi besar-besaran dan sudah mengeluarkan uang banyak baru tidak jadi, dan ini juga demi masyarakat sekitar dan Kabupaten Kolaka,” jelasnya.

Hal lainnya yang diungkap oleh Komisi III dalam kunjungannya itu bahwa hingga saat ini lebih dari 1700 tenaga kerja telah diserap oleh perushaan dalam proyek smelter tersebut. “Kalau berdasarkan penjabaran dari orang HRD tadi bahwa sudah 1.716 tenga kerja diserap baik dari PT. CNI sendiri maupun dari kontraktornya, dan komposisinya sekitar 66 persen dari tenaga lokal di ring satu wilayah perusahaan, saya kira ini perlu di apreseasi,” papar Muh. Ajib Madjid, anggota Komisi III dalam kunjungan itu.

Tambahnya pula penyerapan tenaga kerja sesuai apa yang dijelaskan oleh perusahaan akan semakin banyak nantinya. “Pasti akan semakin banyak dan puncaknya memang dalam proyek smelter ini, katnay kira-kira bisa sampai 5000an, dan kita tekankan agar lebih mengutamakan warga lokal dan bila perlu dilakukan pembinaan dan pelatihan untuk ke depannya,” terang Ajib.

Untuk diketahui pabrik Smelter PT CNI nantinya jika telah beroperasi dapat mengolah nikel dengan kapasitas input bijih (ore) 5 juta ton dan output dalam bentuk feronikel sebanyak 230.000 ton dengan kadar nikel 22%—24% per tahunnya. Smelter tersebut dibangun mengadopsi teknologi rotary kiln electric furnace (RKEF). Smelter yang ditargetkan beroperasi pada tahun 2021 itu merupakan smleter dengan tehnologi menggunakan teknologi rotary kiln electric furnace yang terdiri dari 4 tanur listrik jenis rectangular dan disebut yang pertama di Indonesia dimana masing-masing berkapasitas 72 MVA dengan total investasi sebesar Rp14.5 Triliun. Dalam pembangunan proyek smelter itu PT CNI menggandeng perusahaan nasional, BUMN Indonesia dan BUMN China. Sedangkan kebutuhan listrik sebesar 350 MW untuk menunjang Smelter akan dipasok oleh PT PLN (Persero). (mir)

Sumber : KOLAKAPOS, Kolaka   Tgl. 21 Agsutus 2019

Tinggalkan Balasan